INSTITUT PESANTREN SUNAN DRAJAT LAMONGAN
makalah ILMU KALAM
HAL YANG TERKAIT DALAM PERRBANDINGAN ANTAR ALIRAN ILMU KALAM
MAKALAH
HAL
YANG TERKAIT DALAM PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam
Dosen Pengampu : Sutopo, S.pd., M.pd.i
Disusun oleh:
1. Alif Mukhofaf
2. Budi Santoso
3. Muhammad Yusuf
4. Fathul Aziz
FAKULTAS
TARBIYAH
MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT
PESANTREN SUNAN DRAJAT LAMONGAN
KATA
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan kepada kita
semua sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini pada waktunya. Shalawat dan
salam kita persembahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, oleh karena
beliaulah kita dapat mengenal ilmu pengetahuan dan memberantas kebodohan.
Selanjutnya ucapan terimakasih
dan penghargaan pemakalah sampaikan kepada pembimbing kita Sutopo S.Pd., M.Pd.I
dan seluruh sahabat-sahabat seperjuangan yang telah membantu kami dalam
penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari berbagai
kelemahan, kekurangan dan keterbatasan yang ada, sehingga tetap terbuka
kemungkinan terjadinya kekeliruan dan kekurangan disana sini dalam penulisan
dan penyajian makalah ini, Sehingga kritik dan saran sangat kami butuhkan dalam
penyempurnaan pembuatan makalah ini maupun yang akan datang.
Akhirnya, kepada Allah-lah kami
menyerahkan diri dan memohon taufik dan hidayahnya, semoga makalah ini bermanfaat
bagi kita semua.
Lamongan
2015
Penulis
i
Daftar
isi
KATA
PENGANTAR
.........................................................................................................
i
Daftar
Isi ..............................................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
...................................................................................................
1
1.1.Latar Belakang Masalah ..................................................................................
1
1.2.Rumusan Masalah ............................................................................................
1
1.3.Tujuan Penulisan Masalah ...............................................................................
1
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
................................................................................
2
2.1.
Wahyu Dan Akal
............................................................................................. 2
2.2.
Dosa
................................................................................................................. 2
2.3.
Iman
................................................................................................................. 3
2.4.
Sekte
................................................................................................................ 4
BAB III PENUTUP
............................................................................................................
5
3.1. Simpulan .........................................................................................................
5
3.2. Kritik dan Saran .............................................................................................
5
Daftar pustaka
..................................................................................................................... 6
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Setelah wafatnya
rasulullah umat islam pun berganti kepemimpinan yang di pegang oleh para
Khulafaurrasyidin. Namun dalam masa pemerintahan Khulafaurrasyidin umat islam
terpacah belah menjadi berbagai golongan yang berbeda penadapat dan aliran
serta imam yang berbeda. Perpecahan ini terjadi setelah wafatnya
Khulafaurrasyidin ke 3 yaitu Ustman bin Affan.
Perpecahan tersebut
terjadi karena perebutan kekuasaan antara Ali bin Abi Tholib dan Muawiyan bin
Abi Syufyan, sehingga terjadilah perang antara dua kubu tersebut yang sampai
sekarang dikenal dengan perang Syiffin. Dalam perang tersebut umat islam
terbagi dalam tiga kelompok yaitu golongan Ali, golongan Muawiyah dan golongan
yang keluar dari kedua kubu tersebut yang dikenal dengan Khawarij. Perpecahan
tersebut terus berlanjut hingga pergantian kekuasaan setelah nya hingga
terbentuklah banyak faham dalam agama islam.
1.2.
Rumusan Masalah
2.
Bagaimana
pendapat antar aliran tentang wahyu dan akal?
3.
Bagaimana
pendapat antar aliran tentang dosa?
4.
Bagaimana
pendapat antar aliran tentang iman?
5.
Apa
saja sekte yang ada didalam aliran-aliran ilmu kalam?
1.3. Tujuan Penulisan Makalah
2.
Mengetahui
pendapat antar aliran tentang wahyu dan akal.
3.
Mengetahui
pendapat antar aliran tentang dosa.
4.
Mengetahui
pwndapat antar aliran tentang iman.
5.
Mengetahui
sekte-sekte yang terdapat dalam aliran ilmu kalam.
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
2.1.
wahyu dan akal
Kaum Mu'tazilah berpendapat
semua persoalan dapat diketahui oleh akal manusia dengan perantara akal yang sehat
dan cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui yang baik
dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah wajib bersyukur kepada Tuhan.
Menjauhi yang buruk dan mengerjakan yang baik.
Berbeda dengan Mu'tazilah,
kaum Asy’ariyah berpendapat akal memang dapat mengetahui adanya Tuhan. Tetapi akal
tidak dapat mengetahui cara berterima kasih kepada Tuhan. Untuk mengetahui hal-hal
tersebut diperlukan wahyu. Melalui wahyu manusia Bisa mengetahuinya. Tanpa wahyu,
manusia tidak akan tahu. Golongan Maturidiyah Samarkan berpendapat, akal dapat mengetahui
adanya Tuhan kewajiban dan berterima kasih kepada Tuhan dan mengetahui baik dan
buruk. Tetapi akal tidak dapat mengetahui bagaimana kewajiban berbuat baik dan meninggalkan
buruk, karena itu wahyu sangatlah diperlukan untuk menjelaskannya. Golongan Maturidiyah
Bukhara sependapat dengan kaum Asy’ariyah.
2.2. Dosa
Semua pelaku dosa besar
menurut Khawarij adalah kafir dan disiksa di neraka selamanya. Lebih keras dari
itu Azariqah, bahkan menggunakan istilah yang lebih mengerikan dari kafir yaitu
musyrik. Mereka memandang musyrik bagi umat Islam yang tidak mau bergabung
dalam barisannya. Pelaku dosa besar dalam pandangan mereka telah beralih status
keimanannya menjadi kafir dan telah keluar dari Islam. Kafir semacam ini akan
kekal di neraka bersama orang-orang kafir lainnya.
Pandangan Murji’ah
tentang status pelaku dosa besar dapat ditelusuri dari definisi iman menurut
versi mereka. Murji’ah ekstrem berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak akan
disiksa di neraka jikalau mereka masih mempunyai iman didalam hati mereka.
Sedangkan Murji’ah moderat berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak akan
menjadi kafir, meskipun akan disiksa dineraka. Namun mereka akan disiksa bergantung
pada dosa yang telah mereka lakukan.
Sedangkan Mu’tazilah
tidak menentukan status atau predikat yang pasti bagi pelaku dosa besar, apakah
tetap kafir atau telah kafir, kecuali dengan sebutan yang sangat terkenal
al-manzilah baina al-manzilatain. Setiap pelaku dosa besar menurut Mu’tazilah
berada diposisi tengah antara mu’min dan kafir, jika meninggal dunia dan belum
sempat bertobat maka ia akan dimasukkan kedalam neraka namun siksaan yang akan
diterimanya lebih ringan dari pada siksaan orang kafir.
Asy’ariyah berpendapat
tidak mengkafirkan orang yang bersujud ke baitullah walaupun melakukan
perbuatan dosa besar, tetapi jika mereka menganggap bahwa dosa besar ini di
perbolehkan (halal) maka pelaku tersebut dihukumi kafir.
Sedangkan Maturidiyah
Samarkhan maupun Bukhara berpendapat pelaku dosa masih di katakan sebagai
mu’min selagi masih ada keimanan didalam hatinya. Balasan yang diperoleh kelak
di akhirat sesuai dengan apa yang telah ia perbuat selama didunia, jika ia
meninggal tanpa bertobat dahulu maka keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada
Allah SWT, jikalau menghendaki pelaku dosa besar diampuni maka ia akan
dimasukkan kedalam neraka namun tidak kekal didalamnya.
Sedangkan Syi’ah
percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal didalamnya jika ia belum
bertobat dengan tobat yang sesungguhnya.
2.3. Iman
Iman dalaam pandangan
Khawarij tidak semata-mata percaya kepada Allah, akan tetapi mengerjakan segala
perintah kewajiban agama juga merupakan bagian dari keimanan. Siapapun yang
beriman kepada Allah dan Muhammad adalah rasulnya tetapi tidak menjalankan
kewajiban agama bahkan melalukan perbuatan dosa oleh Khawarij dipandang kafir.
Sedangkan Murji’ah
berpendapat iman adalah iqrar dan tashdiq, dan ditambahkannya pula bahwa iman
tidak berkurang. Pandangan Mu’tazilah menyatakan bahwa amal adalah bagian
terpenting dari iman bahkan hampir mengidentikkanya karena hal tersebut
berkaitan langsung dengan al-wad wa al-wa’id (janji dan ancaman) yang merupakan
pokok dasar mereka.
Abu Hasan Al-Asy’ary
didalam karya-karyanya mendefinisikan iman secara berbeda satu sama lain. Dalam
Maqalat dan Al-Ibanah disebutkan bahwa iman adalah qaul dan amal serta dapat
bertambah. Dalam Al-Luma’ iman diartikannya sebagai tashdiq
billah.argumentasinya bahwa kata mu’min seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an
surat Yusuf ayat 17 memiliki hubungan ma’na dengan kata Shadiqin dalam ayat
itu. Dengan demikian menurut Asy’ary iman adalah tashdiq bi al-qalb (
membenarkan dalam hati).
Maturidiyah Samarkhand
berpendapat bahwa iman adalah tashdiq bi al-qalb bukan semata-mata tashdiq bi
al-lisan. Sedangkan maturidiyah Bukhara berpendapat bahwa iman adalah tashdiq
bi al-lisan dan tashdiq bi al-qalb.
2.4. Sekte
Khawarij secara garis besar mempunyai dua
sekte yang sangat terkenal yaitu Al-Azariqah dan Al-Abadiyah. Sedangkan
Al-Asfarani mengemukakan bahwa ada 22 subsekte yang terdapat dalam Khawarij.
Terlepas dari ada berapa banyak subsekte yang ada di Khawarij para tokoh ilmu
kalam sepakat bahwa subsekte Khawarij yang besar hanya ada 8 yaitu
Al-Muhakkimah, Al-Azriqah, An-Najdat, Al-Baihasiyah, Al-Ajaridah,
As-Saalabiyah, Al-Abadiyah, dan As-Sufriyah. Semua subsekte ini membicarakan
persoalan hukum orang yang berbuat dosa besar dihukumi masih mu’min atau sudah
kafir, sedangkan doktrin-doktrin yang lain hanya menjadi pelengkap saja.
Harun Nasution secara
garis besar mengklasifikasikan Murji’ah menjadi dua sekte yaitu golongan
ekstrem dan golongan moderat. Jabariyah pun secara garis besar mempunyai dua
golongan yaitu Jabariyah ekstem dengan salah satu tokohnya Jahm bin Shafwan
yang berpendapat bahwa bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. Dan
Jabariyah moderat dengan tokohnya Husain An-Najjar dan As-Dhirar.
Sedangkan Syi’ah terbagi
menjadi 22 sekte namun hanya 4 yang masih tersisa hingga saat ini yaitu Syi’ah
Itsna ‘Asyariyah (Syi’ah dua belas imam), Syi’ah Sab’ah, Syi’ah Zaidiyah dan
Syi’ah Ghulat.
BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Dari semua pokok
permasalahan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Mu’tazilah berpendapat bahwa akal dapat mencapai segalanya tanpa adanya
wahyu pun dengan akal manusia dapat mengetahui tuhan sedangkan Asy’ariyah dan
Maturidiyah berpendapat sebaliknya.
2. Dosa merupakan sesuatu yang wajib dihindari karena dalam berbagai aliran
ada yang mengatakan bahwa hanya melakukan dosa besar saja sudah termasuk kafir,
namun berbeda dengan Ahlussunah yang tidak mengkafirkan manusia yang berdosa
besar selagi masih ada iman didalam hati mereka.
3. Secara garis besar iman adalah iqrar dan tashdiq.
4. Khawarij dan Syi’ah mempunyai 22 sekte sedangkan Murji’ah dan Jabariyah ada
dua yaitu ekstrem dan moderat.
3.2. Saran
Dalam penulisan makalah
ini kami menyadari banyaknya kesalahan sehingga kritik dan saran sangat kami
harapkan untuk kemajuan penulisan makalah yang akan datang.
Daftar pustaka
·
Razaq, Abdul. Ilmu
Kalam. Bandung: Pustaka Setia. 2012
·
Anwar, Rosihon. Ilmu
kalam. Bandung: Pustaka Setia. 2012
·
http//:wikipedia.com/ilmu_kalam/perbandingan_antar_aliran/
ii